Sabtu, 02 Juni 2012


Analisis Kredit
Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara  tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih dahulu harus terpenuhinya Prinsip 5 C’s Analysis, yaitu sebagai berikut:

1. Character
Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.
Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:
  1. Mengenal dari dekat. 
  2.  Mengumpulkan keterangan mengenai aktivitas calon debitur dan perbankan. 
  3. Mengumpulkan keterangan dan meminta pendapat dari rekan-rekannya, pegawai dan saingannya mengenai reputasi, kebiasaan pribadi, pergaulan social, dll.
2. Capital
Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit. Modal sendiri juga diperlukan bank sebagai alat kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam menjalankan usahanya karena ikut menanngung resiko terhadap gagalnya usaha. Dalam praktik, kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan self-financing, yang sebaiknya jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank.
Untuk itu bank harus:
  1. Menganalisa neraca selama sedikitnya dua tahun terakhir. 
  2. Mengadakan analisa ratio untuk mengetahui likuiditas, solvabilitas, rentabilitas dari perusahaan calon peminjam kredit.
3. Capacity
Menyangkut kemampuan pimpinan perusahaan beserta sifatnya baik kemampuan dalam manajemen  maupun keahlian dalam bidang usahanya.
Untuk itu bank harus memperhatikan :
  1. Angka-angka hasil produksi.
  2. Angka-angka dan pembelian.
  3. Perhitungan rugi/laba perusahaan saat ini dan proyeksinya.
  4. Data-data financial diwaktu-waktu yang lalu, yang tercermin didalam laporan keuangan perusahaan.
4. Collateral
Collateral berarti jaminan. Ini menunjukan besarnya aktiva yang akan dikaitkan sebagai jaminan atas kredit yang diberikan oleh bank.
Untuk itu bank harus :
  1. Meneliti mengenai pemilikan jaminan tersebut.
  2. Mengukur stabilitas dari pada nilainya. 
  3. Memperhatikan kemampuan untuk dijadikan uang dalam waktu relative singkat tanpa perlu mengurangi nilainya. 
  4. Memperhatikan peningkatan barang yang benar-benar menjamin kepentingan bank, sesuai dengan ketentuan hokum yang berlaku.
5. Conditions
Bank harus melihat kondisi ekonomi secara umum serta kondisi pada sector usaha si peminta kredit.
Untuk itu bank harus memperhatikan :
a.       Keadaan ekonomi yang akan mempengaruhi perkembangan usaha calon peminjam.
b.      Kondisi usaha calon peminjam.
c.       Keadaan pemasaran dari hasil usaha calon peminjam.
d.      Prospek usaha dimasa yang akan dating.
e.       Kebijakan pemerintah yang akan mempengaruhi prospek industry.

Selain formula 5C diatas, didalam pemverian kredit bank akan memperhatikan aspek-aspek pertimbangan kredit untuk menilai kelayakan suatu usaha yang akan dibiayai oleh kredit bank.
Secara umum aspek-aspek pertimbangan kredit tersebut meliputi :
  1. Aspek Umum
  2. Aspek Ekonomi atau KomersiiL.
  3. Aspek Teknik
  4. Aspek Yuridis
  5. Appek Kemanfaatan dan Kesempatan Kerja
  6. Aspek Keuangan.



Minggu, 29 April 2012

Modal Kerja Dan Analisa Perubahan Pendapatan


MODAL KERJA

Menurut J. Fred Weston dan Thomas E.Copeland Modal kerja adalah selisih antara aktiva lancardengan hutang lancar. Dengan demikian modal kerja merupakan investasi dalam kas, suratsurat berharga, piutang dan persediaan dikurangi hutang lancar yang digunakan untuk melindungi aktiva lancer.

Pentingnya pengelolaan Modal kerja :
1.     Manajer keuangan sebagian besar waktunya untuk operasi internal sehari-hari perusahaan.
2.     Aktiva lancar merupakan bagian yang cukup besar dari total aktiva.
3.     Pengelolaan modal kerja khususnya penting bagi perusahaan kecil.
4.     Pertumbuhan penjualan mempunyai hubungan yang erat dan langsung dengan investasi dalam bentuk aktiva lancar.

Kelebihan modal kerja :
1.     Melindungi kemungkinan terjadinya krisis keuangan guna membenahi modal kerja yang diperlukan.
2.     Merencanakan dan mengawasi rencana perusahaan menjadi rencana keuangan di dalam jangka pendek.
3.     Menilai kecepatan perputaran modal kerja dalam arti yang menyeluruh.
4.     Membayar atau memenuhi kewajiban jangka pendek sesuai dengan jatuh tempo.
5.     Memperoleh kredit sebagai sumber dana guna memperbesar pemenuhan kebutuhan kekayaan aktiva lancar.
6.     Memberikan pedoman yang sehingga tidak terdapat keraguan manajemen guna memperoleh efisiensi yang baik.

Kelemahan Modal Kerja :
1.     Kelebihan atas modal kerja mengakibatkan kemampuan laba menurun sebagai akibat lambatnya perputaran dana perusahaan.
2.     Menimnbulkan kesan bahwa manajemen tidak mampu menggunakan modal kerja secara efisien.
3.     Jika modal kerja tersebut dipinjam dari bank maka perusahaan mengalami kerugian dalam membayar bunga.

Terdapat tiga konsep definisi modal kerja yaitu :
1.     Konsep kuantitatif
Menggambarkan keseluruhan (jumlah) dari aktiva lancar, dimana aktiva lancer ini sekali berputar dan dapat kembali kebentuk semula dalam jangka waktu pendek (modal kerja bruto –Gross working capital)
2.     Konsep kualitatif
Merupakan selisih antara aktiva lancer diatas hutang lancar, atau meripakan sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa menunggu likuiditas (modal kerja netto –net working capital).
3.     Konsep fungsional
Menitik beratkan pada fungsi dari pada dana dalam menghasilkan pendapatan income dari usaha pokok perusahaan (Menghasilkan pendapatan pada periode akuntasi dan periode masa depan).

Tujuan Manajemen Modal Kerja
v Mengelola aktiva lancar dan hutang lancar agar terjamin jumlah net working capital yang layak diterima (acceptable) yang menjamin tingkat likuiditas badan usaha.
Sebab Perubahan Modal Kerja :
1.     Adanya kenaikan sector modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan maka modal kerja akan bertambah.
2.     Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi,modal kerja kan bertambah.
3.     Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar, maka modal kerja akan bertambah.
4.     Karena kerugian yang diderita oleh perusahaan, baik kerugian normal maupun kerugian exidentil.maka akan mengurangi modal kerja.
5.     Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang.maka akan mengurangi modal kerja.
6.     Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap maka akan mengurangi modal kerja
7.     Pengambilan uang atau barang yang dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi.


Analisis Perubahan pendapatan
Pengertian Pendapatan

        Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran. Pertumbuhan pendapatan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan yang dijual ke publik melalui saham untuk menarik investor.

Sumber pendapatan :

1. Transaksi modal atau pendanaan yang mengakibatkan adanya tambahan dana    yang ditanamkan oleh pemegang obligasi dan pemegang saham.
2. Laba dari penjualan aktiva yang bukan berupa produk perusahaan seperti aktiva tetap, surat berharga atau penjualan anak/cabang perusahaan.
3. Hadiah , sumbangan atau penemuan
4. Revaluasi aktiva
5. Penyerahan produk perusahaan, yaitu aliran hasil penjualan produk
Kriteria pengakuan pendapatan
Pengakuan sebagai pencatatan suatu item dalam perkiraan-perkiraan dan laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Pengakuan itu termasuk penggambaran suatu item baik dalam kata-kata maupun dalam jumlahnya, dimana jumlah mencakup angka-angka ringkas yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Empat kriteria mendasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui adalah :
1.       Definsi item dalam pertanyaan harus memenuhi definisi salah satu dari tujuh unsur laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian.
  1. Item tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu karakteristik, sifat atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur.
  2. Relevansi informasi mengenai item tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam pengambilan keputusan.
  3. Reliabilitas informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara wajar dapat diuji,dan netral.
Empat kriteria pengakuan di atas, diterapkan pada semua item yang akan diakui pada laporan keuangan. Namun SFAC No.5 menyatakan persyaratan yang lebih mengikat dalam hal pengakuan komponen laba dan pada pengakuan perubahan lainnya dalam aktiva atau kewajiban. Sebagai tambahan pada empat kriteria pengakuan secara umum yang telah dijelaskan sebelumnya, pendapatan dan keuntungan umumnya diakui apabila :
a)     Pendapatan dan keuntungan tersebut telah direalisasikan.
b)    Pendapatan dan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian besar dari proses untuk menghasilkan laba telah selesai.
c)     Pengukuran pendapatan.
Laporan perubahan laba bruto dan analisisnya
Laba kotor (gross profit) merupakan selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan. Karena itu laba kotor dipengaruhi oleh harga dan kuantitas penjualan, dan juga harga perolehan tiap unit produk yang terjual. Dari sisi penjualan, perubahan Laba kotor dipengaruhi oleh adanya perubahan pada item:
1.     perubahan harga jual per unit produk.
2.     perubahan kuantitas atau volume produk yang dijual atau dihasilkan.
Dari sisi harga pokok penjualan perubahan laba kotor dipengaruhi oleh adanya perubahan :
1.     Harga pokok rata-rata per unit produk.
2.     Kuantitas atau volume produk yang dijual.
Berbagai macam bentuk ratio antar perkiraan di laporan rugi laba sehubungan dengan analisis perubahan pendapatan
Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas atau operasinya sehari-hari selalu membutuhkan modal kerja (working capital). Modal kerja ini misalnya digunakan untuk membayar upah buruh, gaji pegawai, membeli bahan mentah, membayar persekot dan pengeluaran-pengeluaran lainnya yang gunanya untuk membiayai operasi perusahaan. Untuk mendapatkan gambaran mengenai pengertian dari modal kerja disini peneliti kemukakan beberapa pendapat :
1.     James C Van Harne (1997:214) menyatakan, bahwa “Modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar, dan modal kerja kotor adalah investasi perusahaan dalam aktiva lancar seperti kas, piutang dan persediaan”.
2.     J. Fred Weston Eugene F. Brigham (1991:157), menyatakan bahwa “Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam harta jangka pendek yaitu kas, surat berharga jangka pendek, piutang dan persediaan”.
3.     Bambang Riyanto (1995:7), mengemukakan 3 (tiga) konsep pengertian modal kerja yaitu :
a)     Konsep kuantitatif. Konsep ini menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancer ( gross working capital ).
b)    Konsep kualitatif. Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek ).
c)     Konsep fungsional. Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan future income.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa modal kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal.
Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya.

sumber :: google


Minggu, 22 April 2012

Tugas 4


ANALISA BREAK EVEN POIN (BEP)

1.   Pengertian Break Even Poin (Titik Impas)

Break Even Poin (BEP) dapat diartikan sebagai titik impas atau keadaan perusahaan didalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian sama dengan nol. Hal tersebut dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya menggunakan biaya tetap, dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup untuk menutup biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian. Dan sebaliknya akan memperoleh keuntungan, bila penjualan melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang harus dikeluarkan.

2.   Manfaat Analisa Break Even Poin (Titik Impas)

Analisa break even poin secara umum dapat memberikan infprmasi kepada pimpinan, bagaiman pola hubungan antara pola hubungan dengan volume penjualan, cost/biaya, dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan penjualan tertentu. Analisa break even dapat membantu pimpinan dalam mengambil keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut :
a.    Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
b.    Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mencapai keuntungan tertentu.
c.    Seberapa jauh kekurangan penjulan agar perusahaan tidak menderita kerugian.
d.   Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

3.   Jenis Biaya Berdasarkan Break Even Poin (Titik Impas)

Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut :
1)     Variabel Cost (Biaya Variabel)
Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, diman perubahannya tercermin dalam biaya variabel total. Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan  persentase tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan penjualan dalam unit.
2)    Fixed Cost (Biaya Tetap)
Fixed cost  merupakan jenis biaya yang selalu  tetap dan tidak terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu(function of time) sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa, depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap dikeluarkan.


3)     Semi Varibel Cost (Biaya Semi Variabel)
Semi  variabel cost  merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong jenis ini misalnya:  Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi salesman ini tetap unutk range atau volume tertentu, dan naik pada level yang
lebih tinggi.
4)     Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas

4.   Keterbatasan Analisis Break Even Point

Analisis break even dapat dirasakan manfaatnya apabila titik break even dapat dipertahankan selama periode tertentu. Keadaan ini at dipertahankan apabila biaya-biaya dan harga jual dalah konstan, karena naik turunnya harga jual dan biaya akan mempengaruhi titik break even. Dalam kenyataan analisis ini agak sukar untuk diterapkan. Oleh sebab ini bagi analis perlu diketahui bahwa analisis break even mempunyai limitasi-limitasi tertentu, yaitu:
a)    Fixed cost haruslah konstan selama periode atau range of out put tertentu.
b)    Variabel cost dalam hubungannya dengan sales haruslah konstan.
c)    Sales price perunit tidak berubah dalam periode tertentu.
d)    Sales mix adalah konstan.

v  Berdasarkan limitasi-limitasi tersebut,  BREAK EVEN POINT (BEP) akan bergeser atau berubah apabila:
1.    Perubahan FC
Terjadi sebagai akibat  bertambahnya kapasitas produksi, dimana perubahan ini di tandai dengan naik turunnya garis FC dan TC-nya, meskipun perubahannya tidak mempengaruhi kemiringan garis TC. Bila FC naik BEP akan bergeser keatas atau sebaliknya.
2.    Perubahan pada variabel cost ratio atau VC per unit
Dimana perubahan ini akan menentukan bagaimana miringnya garis total cost. Naiknya biayaVC per unit akan menggeser BEP keatas atau sebaliknya.
3.    Perubahan dalam sales price per unit
Perubahan ini akan mempengaruhi miringnya garis total revenue (TR). Naiknya harga jual per unit pada level penjualan yang sama walaupun semua biaya adalah tetap, akan menggeser kebawah atau sebaliknya.
4.    Terjadinya perubahan dalam sales mix
Apabila suatu perusahaan memproduksi  lebih dari satu macam produk maka komposisi atau perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales mix) haruslah tetap. Apabila terjadi perubahan misalnya terjadi  kenaikan 20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP pun akan berubah.


.
v  Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :
Total Fixed Cost
__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost


Contoh :
Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
Rp.200,000
__________  = 40 units
10,000 – 5,000
Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even
point.
v  Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :
Total Fixed Cost
__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost


Contoh :
Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP adalah

Rp.200,000
__________  x Rp.10,000 = Rp.400,000.
10,000-5.000